Aturan Bikin Sekolah Seolah Penjara, Guru Tak Berdaya, Siswa Pun Tak Bahagia

Kompas.com - 14/11/2019, 15:42 WIB
Puluhan guru mengikuti Class Series Jabar Masagi di Dinas Pendidikan Jawa Barat, Rabu (13/11/2019). KOMPAS.com/RENI SUSANTIPuluhan guru mengikuti Class Series Jabar Masagi di Dinas Pendidikan Jawa Barat, Rabu (13/11/2019).

BANDUNG, KOMPAS.com – “Kamu dengerin saya ngomong enggak?” ujar seorang guru dengan nada tinggi.

Kalimat yang biasa diucapkan orangtua atapun guru pada siswanya tersebut diikuti gelak tawa puluhan guru dalam Class Series Jabar Masagi di Dinas Pendidikan Jawa Barat, Rabu (13/11/2019).

Mereka memuji akting guru tersebut saat diminta Psikolog Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Ifa H Misbach, mempraktekan kalimat yang harus dihindari orangtua dan guru pada anak maupun siswanya.

“Itu jenis pertanyaan retoris. Pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban bahkan disertai bullying verbal,” ujar Ifa saat membawakan materi “Mengapa Remaja Suka Memberontak?”.

Baca juga: Dikepung Tambang Batu Bara, SD Filial di Samarinda Miliki 17 Siswa dan 2 Guru

Ifa mengungkapkan, kalimat tersebut bisa diganti menjadi “Bolehkah kamu mendengar saya yang sedang bicara?” dengan nada lebih rendah.

Bila dipraktekkan ke anak dalam keseharian, bisa memberikan perubahan yang luar biasa untuk pendidikan karakter anak.

“Itu hanya contoh kecil. Ada sembilan jenis pertanyaan yang harus dihindari,” ungkapnya.

Kesembilan pertanyaan tersebut tanpa disadari mengandung makna menghakimi, mendikte, menyindir, merendahkan harga diri, membandingkan, menyalahkan, mengancam, dan menyudutkan orang.

Baca juga: Kisah Guru di Pedalaman Papua, Gaji Habis Beli Air dan Minyak Tanah

 

Peraturan membuat sekolah seolah penjara

Idealnya, sambung Ifa, pendidikan memberikan ruang keberagaman bagi siswa. Apalagi siswa berangkat dari keluarga yang berbeda dengan keunikan dan potensi yang berbeda pula.

Guru berfungsi sebagai pelatih emosi yang membantu siswa menjadi bagja (bahagia). Guru bertugas untuk menemukan potensi keunikan dan kekuatan siswa yang beragam.

Namun dalam praktiknya, pendidikan menyeragamkan. Salah satunya melalui peraturan yang mengeneralisir siswa.

Akibatnya, siswa yang tidak mampu matematika dianggap bodoh. Padahal minat dan bakat siswa di seni atau olahraga.

Baca juga: Cerita Guru Honorer di Samarinda, Ke Sekolah Jalan Kaki 2 Km, 10 Tahun Mengajar Digaji Rp 800.000

 

Hingga akhirnya, pada sebagian anak mereka tidak tahu bakat dirinya apa dan menjadi imitasi orang lain.

Sebagian siswa lainnya merasa, ketika tidak mendapat dukungan dan keunikannya tidak diapresiasi, mereka akan mencari pergaulan yang bisa menerima dirinya.

Sehingga sekolah seolah menjadi penjara.

“Menurut Rudolf Dreikurs, anak-anak yang berperilaku buruk sebetulnya adalah anak-anak yang tidak mendapatkan dukungan dari orang dewasa,” imbuhnya.

Baca juga: Di Sekolah Ini, Hanya Ada 1 Ruang Kelas dan 1 Guru untuk Seluruh Siswa

Guru yang tak berdaya

Persoalannya, banyak guru merasa terkerangkeng sistem dengan penyeragaman aturan hingga target nilai ujian nasional (UN) yang tinggi.

Kondisi ini membuat guru merasa tidak berdaya.

Hal itu diakui salah satu peserta pelatihan, guru BP SMAN 20 Bandung, Euis Sopiah. Ia mengatakan, aturan di sekolah menyeragamkan setiap anak.

Kondisi ini terkadang berbenturan dalam memberikan pelayanan kepada siswa yang memiliki potensi beragam.

“(Pelatihan) ini sangat berguna. Karena selama ini di lapangan, kita mendidik anak untuk memiliki karakter baik tapi pengetahuan kita belum sesuai. Bagaimana mendampingi siswa sesuai dengan potensinya, keberagaman, dan keunikannya,” tuturnya.

Baca juga: Surat dari Pedalaman Papua untuk Menteri Nadiem: Ibu Guru, Kami Takut Meja Patah

 

Tantangan: siswa bahagia lahir dari guru yang bahagia

Koordinator Komunitas Guru Jabar Masagi Wita Roswita mengatakan, tantangan untuk guru saat ini adalah ketidakmerdekaan.

Mereka merasa tidak punya cukup daya untuk membuat perubahan di lapangan.

“Misal pendidikan karakter atau program apapun yang diinisiasi pemerintah ataupun non pemerintah, kadang selalu dihayati sebagai beban tambahan. Karena sehari-hari saja sudah dibebani beban administrasi, tuntutan untuk meloloskan anak dengan nilai ujian tinggi,” ungkapnya.

Untuk itulah, kelas-kelas seperti ini diadakan, selain pelatihan yang secara khusus diberikan pada 21 sekolah terpilih di Jabar.

Baca juga: Kebutuhan Guru di Surabaya Mendesak, Risma: Kalau Enggak Dapat Aku yang Ngajar

Lewat kelas ini, pihaknya ingin membangun keberdayaan guru. Guru tidak merasa hopeless, mempraktekkan isi dari pelatihan tersebut, dan melakukan perubahan sekecil apapun.

“Kami berharap dari kelas-kelas ini terbentuk komunitas guru yang saling menguatkan (support system) menuju pendidikan karakter yang lebih baik,” imbuhnya.

Sebab siswa yang bahagia akan lahir dari guru yang bahagia. Itulah yang saat ini terus diperjuangkan Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui Dinas Pendidikan dan Jabar Masagi.

“Hasilnya di luar ekspektasi. Banyak guru yang daftar kelas ini dari berbagai daerah, meski harus mengeluarkan biaya sendiri,” pungkasnya.

Baca juga: Kisah Inspiratif, Sriyono Guru PAUD Penyandang Disabilitas dari Blora



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Jateng Dapat Tambahan 248.600 Dosis, 31 Daerah Siap Gelar Vaksinasi Covid-19

Jateng Dapat Tambahan 248.600 Dosis, 31 Daerah Siap Gelar Vaksinasi Covid-19

Regional
Kantor Perkebunan Sawit PT Arrtu Plantation di Ketapang Kalbar Diduga Dibakar Massa

Kantor Perkebunan Sawit PT Arrtu Plantation di Ketapang Kalbar Diduga Dibakar Massa

Regional
Terima 19.200 Dosis Vaksin Sinovac, 9.600 Nakes di Banyumas Disuntik Besok

Terima 19.200 Dosis Vaksin Sinovac, 9.600 Nakes di Banyumas Disuntik Besok

Regional
Sekolah di Kundur Utara Kepri Kembali Terapkan Pembelajaran Daring

Sekolah di Kundur Utara Kepri Kembali Terapkan Pembelajaran Daring

Regional
Ibunda Menangis dan Pingsan di Pemakaman Pratu Dedi Hamdani: Jangan Halangi, Saya Ingin Melihat Dia

Ibunda Menangis dan Pingsan di Pemakaman Pratu Dedi Hamdani: Jangan Halangi, Saya Ingin Melihat Dia

Regional
Seorang Istri Dibunuh Suaminya Gegara Uang Habis Dipakai untuk Belanja, Ini Motifnya

Seorang Istri Dibunuh Suaminya Gegara Uang Habis Dipakai untuk Belanja, Ini Motifnya

Regional
Seorang Kakek Diserang Puluhan Tawon, Teriakan Ini Sebelum Ditemukan Tewas

Seorang Kakek Diserang Puluhan Tawon, Teriakan Ini Sebelum Ditemukan Tewas

Regional
Misteri Sinyal 20 Detik yang Terekam Sensor BMKG Saat Dentuman di Bali

Misteri Sinyal 20 Detik yang Terekam Sensor BMKG Saat Dentuman di Bali

Regional
Adu Mulut, Anggota TNI di Bulukumba Dianiaya 10 Orang dengan Parang dan Busur

Adu Mulut, Anggota TNI di Bulukumba Dianiaya 10 Orang dengan Parang dan Busur

Regional
Keluarga Ambil Paksa Jenazah Pasien Covid-19 di RSUD Ba'a NTT

Keluarga Ambil Paksa Jenazah Pasien Covid-19 di RSUD Ba'a NTT

Regional
PPKM di Banyumas Diperpanjang hingga 8 Februari, Penyekatan di Perbatasan Digencarkan

PPKM di Banyumas Diperpanjang hingga 8 Februari, Penyekatan di Perbatasan Digencarkan

Regional
Diduga Takut Diceraikan, Seorang Istri Bantu Suami Lakukan Perkosaan

Diduga Takut Diceraikan, Seorang Istri Bantu Suami Lakukan Perkosaan

Regional
Fakta Dentuman Misterius di Bali, Bukan karena Gempa dan Penampakan Benda Bersinar di Langit

Fakta Dentuman Misterius di Bali, Bukan karena Gempa dan Penampakan Benda Bersinar di Langit

Regional
Langgar PPKM, Satpol PP Bubarkan 2 Acara Hajatan di Solo

Langgar PPKM, Satpol PP Bubarkan 2 Acara Hajatan di Solo

Regional
Seorang Istri Tewas Dibunuh Suaminya Gegara Uang Habis Dipakai untuk Belanja, Begini Ceritanya

Seorang Istri Tewas Dibunuh Suaminya Gegara Uang Habis Dipakai untuk Belanja, Begini Ceritanya

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X