Dedi Mulyadi: Budaya Beli Baju Lebaran Tak Bisa Dibendung meski Ada Pandemi

Kompas.com - 06/05/2021, 09:00 WIB
Sejumlah warga berbelanja di pedagang kaki lima (PKL) tepi trotoar sekitar Pusat Grosir Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, Minggu (2/5/2021). Gubernur DKI Anies Baswedan mengakui adanya lonjakan pengunjung di pusat tekstil terbesar se-Asia Tenggara tersebut, dari sekitar 35.000 pengunjung pada hari biasa menjadi sekitar 87.000 orang pada akhir pekan ini sehingga pihaknya menyiagakan sekitar 750 petugas untuk menjaga kedisiplinan protokol kesehatan untuk mencegah penularan COVID-19. ANTARA FOTO/ADITYA PRADANA PUTRASejumlah warga berbelanja di pedagang kaki lima (PKL) tepi trotoar sekitar Pusat Grosir Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, Minggu (2/5/2021). Gubernur DKI Anies Baswedan mengakui adanya lonjakan pengunjung di pusat tekstil terbesar se-Asia Tenggara tersebut, dari sekitar 35.000 pengunjung pada hari biasa menjadi sekitar 87.000 orang pada akhir pekan ini sehingga pihaknya menyiagakan sekitar 750 petugas untuk menjaga kedisiplinan protokol kesehatan untuk mencegah penularan COVID-19.

BANDUNG, KOMPAS.com - Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Dedi Mulyadi mengatakan, munculnya kerumunan di pasar Tanah Abang jelas akan menimbulkan kecemasan berbagai pihak hingga akhirnya berujung saling menyalahkan.

Seperti yang terjadi belakangan ini, Menteri Keuangan Sri Mulyani dituding jadi biang terjadinya kerumunan di Pasar Tanah Abang karena pernyataan yang mengimbau masyarakat untuk membeli baju Lebaran agar perekonomian Indonesia yang belakangan terpuruk karena pandemi Covid-19 bisa kembali bangkit.

"Segala sesuatu di Indonesia pasti dikaitkan dengan politik dan kepentingannya," ujar Dedi via telepon kepada Kompas.com, Rabu (5/5/2021).

Baca juga: Berkaca dari Kerumunan Pasar Tanah Abang, Dedi Mulyadi Sarankan Pasar Buka 24 Jam

Terkait budaya

Dedi mengatakan, diminta atau tidak, budaya masyarakat Indonesia membeli baju baru jelang hari raya Idul Fitri tidak bisa dihalangi atau pun dibendung meski ada pandemi.

"Semuanya ingin serba baru, jangankan yang memiliki kecukupan ekonomi, yang tidak pun berusaha mengumpulkan uang dan memaksakan diri agar memiliki kelengkapan hari raya Idul Fitri serba baru. Artinya kecenderungan belanja memang sulit dicegah karena peristiwanya setahun sekali," jelasnya.

Agar pasar yang menjual komoditi sandang seperti Pasar Tanah Abang dan Pasar Baru Bandung tidak terjadi kerumunan manusia, Dedi menyarankan agar pemerintah tidak membatasi jam berjualan kepada pasar penyedia komoditas sandang.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Ketika kita membuat logika dibatasi jam-nya, maka akan terjadi antrean orang untuk menunggu jam tersebut baik buka maupun jam tutup. Pembatasan jam untuk melayani yang belanja justru akan menimbulkan kerumunan," bebernya.

Baca juga: Berburu Baju Lebaran, Warga Majalengka Rela Berdesakan di Pusat Perbelanjaan Sandang

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Terbukti di Jabar, Daerah yang Tinggi Vaksinasi, Angka Kematiannya Rendah

Terbukti di Jabar, Daerah yang Tinggi Vaksinasi, Angka Kematiannya Rendah

Bandung
Pembawa Bom Molotov dalam Demo Menolak PPKM di Bandung Jadi Tersangka

Pembawa Bom Molotov dalam Demo Menolak PPKM di Bandung Jadi Tersangka

Bandung
Wali Kota Bandung Dirawat di RS Bukan karena Covid-19

Wali Kota Bandung Dirawat di RS Bukan karena Covid-19

Bandung
Catat, Ini 13 Bansos yang Bisa Didapatkan Warga Jabar Saat PPKM Level 4

Catat, Ini 13 Bansos yang Bisa Didapatkan Warga Jabar Saat PPKM Level 4

Bandung
Obat Covid-19 Dijual Seharga Rp 10 Juta, 5 Orang Ditangkap Polda Jabar

Obat Covid-19 Dijual Seharga Rp 10 Juta, 5 Orang Ditangkap Polda Jabar

Bandung
Demo PPKM Disusupi Kelompok Berbaju Hitam, Bawa Bom Molotov hingga Rusak Fasilitas Umum

Demo PPKM Disusupi Kelompok Berbaju Hitam, Bawa Bom Molotov hingga Rusak Fasilitas Umum

Bandung
Bikin Ricuh Saat Demo PPKM, 150 Demonstran Ditangkap, Ada yang Bawa Bom Molotov

Bikin Ricuh Saat Demo PPKM, 150 Demonstran Ditangkap, Ada yang Bawa Bom Molotov

Bandung
'Kami Tidak Terima PPKM Diperpanjang, Sekarang Saja Tidak Ada Solusi, Bagaimana Kami Bertahan Hidup'

"Kami Tidak Terima PPKM Diperpanjang, Sekarang Saja Tidak Ada Solusi, Bagaimana Kami Bertahan Hidup"

Bandung
'PPKM Diperpanjang Kami Tak Terima, Sekarang Saja Tidak Ada Solusi, Gimana Bisa Hidup'

"PPKM Diperpanjang Kami Tak Terima, Sekarang Saja Tidak Ada Solusi, Gimana Bisa Hidup"

Bandung
Para Pedagang Kibarkan Bendera Putih, Terpuruk dan Menyerah Hadapi Pandemi

Para Pedagang Kibarkan Bendera Putih, Terpuruk dan Menyerah Hadapi Pandemi

Bandung
Curhat PKL Saat PPKM Darurat: Kalau Tidak Mencari Uang Hari Ini, Kita Tidak Makan

Curhat PKL Saat PPKM Darurat: Kalau Tidak Mencari Uang Hari Ini, Kita Tidak Makan

Bandung
Cerita Desy Ratnasari, Tak Mengaku Anggota DPR Saat Kena Penyekatan, Tetap Lolos karena Patuh

Cerita Desy Ratnasari, Tak Mengaku Anggota DPR Saat Kena Penyekatan, Tetap Lolos karena Patuh

Bandung
UPDATE: Daftar Titik Penyekatan di Jalan Tol Jabar Selama PPKM Darurat

UPDATE: Daftar Titik Penyekatan di Jalan Tol Jabar Selama PPKM Darurat

Bandung
Penjelasan BEM Fisip Unpad soal Unggahan 'Kami Bersama Presiden Jokowi, tapi Boong'

Penjelasan BEM Fisip Unpad soal Unggahan "Kami Bersama Presiden Jokowi, tapi Boong"

Bandung
Tak Tega Anaknya Masuk Lapas, Ayah Pemilik Kedai Kopi: Mampu Bayar Denda PPKM, tapi Saya Harus Dukung Keputusannya

Tak Tega Anaknya Masuk Lapas, Ayah Pemilik Kedai Kopi: Mampu Bayar Denda PPKM, tapi Saya Harus Dukung Keputusannya

Bandung
komentar di artikel lainnya
Close Ads X