Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Cerita Arip Munawir, Lulusan S2 yang Pilih Jadi Petani dan Dipercaya Sebagai Ketua Gapoktan

Kompas.com - 22/11/2022, 11:59 WIB
Farida Farhan,
Gloria Setyvani Putri

Tim Redaksi

 

Tanpa harga jual yang layak untuk hasil pertanian, kata Arip, minta anak muda untuk menggeluti dunia pertanian akan semakin berkurang.

“Jika Pemerintah ingin mendorong ketahanan pangan dan swasembada beras, maka perhatikan serta bantu Petaninya” tegas Arip.

4 Kendala petani

Kebutuhan pupuk

Gapoktan Mekarjaya memiliki 14 kelompok tani (poktan), dengan luas 56 hingga 30 hektar sawah tiap poktan. Pupuk yang dipakai petani Desa Kampungsawah rata-rata yang memiliki kandungan nitrogen tinggi, misalnya urea dan phospat seperti TSP atau SP36.

Kebutuhan pupuk pada tahun 2022 sebanyak 391,9 ton Urea dan 470,28 ton Phonska subsidi.

“Pupuk (subsidi) menjadi kendala tersendiri bagi kami terutama Urea, apalagi sebentar lagi akan diterapkan e-Alokasi,” jelas Arip.

E-Alokasi adalah sistem pembagian serta pemerataan pupuk bersubsidi kepada petani dengan pengalokasian dari atas ke bawah. Pengalokasian dari atas ke bawah inilah yang menjadi kekhawatiran petani di Desa Kampungsawah, sebab ditakutkan tidak sesuai kebutuhan pupuk di Petani.

Untuk pupuk subsidi seperti urea dan phonska harganya antara Rp 230.000- Rp260.000 per kuintal.

Adapun harga pupuk non subsidi sangat mahal dan tidak terjangkau oleh Petani Kampungsawah. Sedangkan pupuk subsidi dibatasi dan kadang ada keterlambatan datang.

"Sehingga, waktu pemupukan menjadi mundur dan tidak sesuai waktu yang seharusnya dilakukan pemupukan," kata dia.

Untuk mengakali kendala soal pupuk, petani di Kampungsawah beralih ke pertanian semi organik. Dimana pupuk organik dipadukan dengan pupuk sintesis subsidi, seperti melakukan penyemprotan dengan POC.

Saat ini Gapoktan Mekarjaya Desa Kampungsawah baru melakukan ujicoba POC seperti Photosintesis Bacteria (PSB), Jakaba, zat perangsang tumbuh (ZPT) kulit bawang dan Kalium Phospat organik untuk mensiasati harga phospat dan kalium yang mahal.

"Uji coba di sini dimaksudkan untuk persiapan transfer pengetahuan serta pengalaman kepada seluruh Petani Kampungsawah, jika hasil panen yang dihasilkan dari Pertanian semi organik berjalan baik," terang dia.

Irigasi

Dalam satu tahun, petani Kampungsawah hanya mampu melakukan dua kali musim tanam dengan produksi gabah panen mencapai 10.550,4 ton. Indeks Pertanaman (IP) sekitar 180 per tahun, tidak genap 200.

"Hal ini disebabkan oleh kondisi saluran tersier yang kurang baik sehingga musim tanam tidak serempak, serta terkendala modal untuk musim tanam berikutnya," kata dia.

Arip mengatakan, banyaknya sampah di saluran irigasi pertanian menjadi kendala terbesar. Ini membuat air tidak lancar mengalir dan terjadi pendangkalan.

Kita selalu melakukan keridan atau gotong royong membersihkan saluran secara terjadwal. Tujuannya agar saluran Pertanian lancar dan airnya bisa mengairi seluruh sawah yang ada.

Berkerjasama dengan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Bumi Asih Desa Kampungsawah, pihaknya juga dalam hal edukasi dan pengelolaan sampah terpadu di Desa Kampungsawah.

Sehingga, masyarakat tidak membiasakan diri membuang sampah ke saluran Pertanian yang menggangu masa tanam para petani.

Arip berhatap saluran irigasi di desanya dibangun lebih moderen dan dikelola debgan lebih baik. Misalnya penurapan pinggiran saluran dan pintu air yang lebih baik.

"Sehingga dapat memaksimalkan pendistribusian air irigasi dan juga pemompaan di wilayah yang tidak terjangkau saluran Pertanian," harapnya.

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com