Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

PMI Asal Karawang Dijual Berkali-kali Jadi Budak di Suriah: Tolong Saya, Saya Pengin Pulang

Kompas.com - 31/03/2023, 16:53 WIB
Reni Susanti

Editor

KARAWANG, KOMPAS.com - Seorang pekerja migran Indonesia (PMI) asal Karawang, Dede Asiah Awing Omo (37), menceritakan bagaimana dirinya berakhir menjadi budak di Suriah.

Curahan hati Dede disampaikannya dalam sebuah video yang kini viral di media sosial.

"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, nama saya Dede Asiah dari Karawang, tolong saya, saya pengin pulang, perut saya sakit..," ungkap Dede, seperti dalam video yang beredar.

Baca juga: Pengakuan Pelaku Perekrutan PMI Ilegal di NTB: Beri Uang pada Korban untuk Biaya Pemberangkatan

Dalam tayangan berdurasi 2 menit itu, Dede menceritakan awal mula dirinya dijual sebagai budak.

Peristiwa itu bermula ketika dirinya menerima tawaran untuk bekerja sebagai PMI oleh perusahaan penyalur tenaga kerja.

"Jadi awal-awalnya saya diiming-imingin kerja di Turki gaji 600 dollar, tapi setelah saya mendarat di Istanbul, saya dibuang ke Suriah," ujarnya Dede.

Baca juga: Punya Bayi Berusia 1 Tahun, Seorang Tersangka Penyalur PMI Ilegal di Lumajang Tidak Ditahan

Terpaut jauh lebih dari 1.461,6 kilometer, perempuan kelahiran 20 Mei 1986 itu tidak dapat berbuat banyak. Dede hanya mengikuti arahan perusahaan yang membawanya bekerja.

Tak dinyana, dirinya justru dijual oleh perusahaan penyalur tenaga kerja sebesar 12.000 dollar AS.

Sebagai budak yang sudah dibeli, Dede pun diwajibkan untuk mengabdi kepada seorang majikan selama empat tahun.

"Di Suriah saya dijual 12.000 dollar empat tahun tanpa sepengetahuan saya. Saya tahunya dari mana? Saya tahunya dari majikan, karena majikan saya bilang, 'Kalau saya harus kerja di sini empat tahun karena saya ini mahal'," ungkap Dede.

"Saya ini 12.000 dollar, majikan udah ngeluarin uang 12.000 dollar untuk ngebeli saya," bebernya.

Hari demi hari berganti bulan dan tahun, walau berat, Dede menjalani pekerjaannya sebagai budak dengan rasa sabar.

Namun, kini dirinya mengaku tidak kuat lagi, alasannya perutnya kerap kali sakit pasca-operasi caesar.

"Karena pekerjaannya sangat berat, perut saya sakit karena saya baru saja lahiran caesar, saya pun dipulangkan ke kantor-saya diistirahatkan, seminggu-dua minggu, lalu saya dijual lagi," ujarnya menahan tangis.

"Lalu saya kembali lagi kerja, perut saya sakit lagi karena pekerjaannya emang sangat berat. tidur jam dua malem, bangun jam 6-jam 7 pagi," ungkap Dede sedih.

Lantaran tidak kuat menahan sakit, dirinya pun mengadukan nasib kepada Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk Republik Arab Suriah di Damaskus.

Namun, laporannya tidak kunjung ditindaklanjuti. Dirinya mengaku masih belum bisa keluar dari tempat penampungannya saat ini.

"Di sini juga saya udah coba untuk ngehubungin KBRI, tapi KBRI tidak ada tindakan, jadi saya bingung minta tolong ke siapa? lapor ke siapa?" ungkapnya sambil menghapus air mata yang terus berlinang di pipi.

"Saya cuma ngeluh ke suami saya, tapi suami saya udah bolak-balik ke Polres (Karawang) minta bantuan sana-sini, udah ngehabisin uang buat nolongin saya, tapi belum ada pertolongan dari siapa pun," ucap dia.

"Tolong bantu saya, tolong bantu saya, saya pengin pulang," ujarnya memelas sembari terus menangis.

Video yang terekam dan beredar luas di media sosial itu salah satunya diunggah akun Nicho Silalahi @Migran_TV_7777.

Bupati Karawang Cellica Nurrachadiana bakal membantu memulangkan Dede.

Ia menyebutkan, Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Karawang sudah berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) dan Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker).

"Disnaker Karawang sudah komunikasi dengan sponsornya, dan sponsornya siap membantu kepulangan. Berkoordinasi dengan Kemenlu dan Kemenaker," kata Cellica di Kantor Pemkab Karawang, Jumat (31/3/2023).

Cellica menyebutkan, dari hasil penelusuran Disnakertrans Karawang, PMI itu berangkat keluar negeri secara nonprosedural dengan memalsukan data nama dan alamat bersangkutan.

"Kami telah berkoordinasi (dengan) Kemenlu, walaupun ini nonprosedural, tetap kami harus mengupayakan. Karena yang bersangkutan meminta bantuan kepada pemerintah daerah," bebernya.

Cellica menyebutkan, biasanya proses pemulangannya agak lama dibanding proses pemulangan PMI yang berangkat sesuai prosedur.

Ia meminta Kepala Disnakertrans Karawang untuk langsung berhubungan dengan PMI tersebut untuk menggali data sebenarnya agar mempermudah proses pemulangan.

"Sekali lagi kami tetap bantu walaupun ini sebenarnya ilegal ya. Jadi ini bukan kasus satu kali dua kali. Dulu ada kasus sama di Saudi Arabia kami pulangkan," ujar Cellica.

Kepala Disnakertrans Karawang Rosmalia Dewi mengungkapkan, pihaknya sudah melakukan pengecekan di Sistem Komputerisasi Tenaga Kerja Luar Negeri (SISKOTKLN) dan tidak menemukan yang bersangkutan tercatat sebagai PMI yang berangkat secara prosedural.

Disnakertrans, kata Rosmalia, hanya mendapatkan informasi mengenai PMI itu dari viralnya video di media sosial dengan nama Dede Asiah Awing Omo (37).

Pihaknya pun langsung melakukan penelusuran sejak Minggu (26/3/2023) sore.

"Dari data alamat itu di Perumahan BMI 1 Dawuan, Cikampek. Tapi tanya RT RW tidak ada identitas itu. Kita terus cari informasi, alhamdulillah dapatkan nomor suaminya," kata l Rosmalia saat ditemui di kantornya pada Selasa (28/3/2023).

Ia pun meminta suami PMI yang bersangkutan datang ke kantor Disnakertrans Karawang untuk membawa data-data PMI tersebut.

"Karena data-data ini sangat diperlukan buat laporan ke Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Ketenagakerjaan," ungkapnya.

Meskipun PMI itu berangkat secara nonprosedural, Disnakertrans Karawang tetap melakukan upaya pemulangannya.

Misalnya berkoordinasi dengan Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) Wilayah Jawa Barat (Jabar).

"Kami sampai saat ini juga telah kirim surat ke Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Ketenagakerjaan untuk proses pemulangan PMI yang berangkat nonprosedural tersebut," beber dia.

Adapun soal dugaan TPPO (Tindak Pidana Perdagangan Orang), kata Rosmalia, ditangani pihak Polres Karawang. Unit Perlindungan Perempuan dan Anak Polres Karawang juga telah datang menemui suami PMI tersebut.

"Kalau kita walaupun nonprosedural tetap berupaya agar bisa kembali pulang. Untuk tindakan perdagangan orang, itu Polres yang tangani," ucap dia.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com