Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sopir Bus Putera Fajar Jadi Tersangka Kasus Kecelakaan di Subang, Siapa Lagi yang Harus Bertanggung Jawab?

Kompas.com - 16/05/2024, 08:38 WIB
Rachmawati

Editor

KOMPAS.com - Polisi telah menetapkan sopir bus Trans Putera Fajar, Sadira, sebagai tersangka kecelakaan maut di Subang, Jawa Barat, yang menewaskan 11 orang. Pihak pemilik bus baru akan diperiksa. Mengapa pengemudi 'selalu menjadi tumbal'? Siapa lagi yang harus bertanggungjawab atas kecelakaan ini?

Direktur Lalu Lintas Polda Jabar Komisaris Besar Wibowo kepada media mengatakan penetapan pria 51 tahun sebagai tersangka berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap 13 saksi.

Mereka di antaranya sopir bus, kondektur atau kernet, penumpang bus, saksi yang berada di lokasi kejadian, serta ahli.

"Dari langkah-langkah yang telah dilakukan itu, kita mendapatkan bahwa di TKP tidak ditemukan bekas pengereman, namun yang ada hanyalah bekas gesekan antara bus dan aspal, kata Wibowo, Selasa (14/5/2024).

Baca juga: Buntut Kecelakaan di Subang, Kemenhub dan Polri Cek Massal Kelayakan Bus Pariwisata di 6 Provinsi

Wibowo mengkonfirmasi kecelakaan ini disebabkan kegagalan fungsi pengereman. Setelah penetapan Sadira sebagai tersangka, polisi akan memintai keterangan dari pihak perusahaan dan ahli transportasi.

Kecelakaan bus pariwisata rombongan SMK Lingga Kencana, Depok, Jawa Barat menambah daftar panjang insiden maut angkutan darat di Indonesia.

Pakar transportasi mengatakan kecelakaan yang menewaskan 11 orang ini, “Menjadi petanda bahwa kondisi keselamatan kita, kondisi angkutan (darat) kita sudah gawat”.

Insiden ini membuka persoalan lebih luas tentang pihak-pihak yang ditengarai harus bertanggung jawab, selain sopir bus yang selama ini "selalu dijadikan tumbal setiap kecelakaan bus".

Baca juga: 11 Daerah Larang dan Batasi Study Tour, Imbas Kecelakaan Bus di Subang

"Dia ingin membahagiakan ibunya"

Foto Mahesya Putra saat pemakamannya.BBC Indonesia/Dokumen Keluarga Foto Mahesya Putra saat pemakamannya.
Sebelas orang tewas, termasuk Mahesya Putra setelah bus pariwisata Trans Putera Fajar mengalami rem blong hingga terguling di jalan menurun di Kawasan Desa Palasari, Subang, Jawa Barat, Sabtu (11/05) malam.

Acara perpisahan wisuda kelas XII SMK Lingga Kencana ini sekaligus menjadi pelepasan terakhir bagi Rosdiana, terhadap putra semata wayangnya itu.

“Kalau lulus, saya mau kuliah, mau kerja sekalian kuliah. Dia sangat ingin membahagiakan ibunya, mengangkat derajat orang tua,” kata Rosdiana mengenang keinginan yang paling diingat dari Mahesya.

Rosdiana menjadi tulang punggung keluarga dengan berjualan makanan ringan, dan Mahesya selama ini ikut menopang dapur keluarga.

Baca juga: 2 Siswa Korban Kecelakaan Bus di Subang Sempat Jadi Kuli Angkut Pasir demi Ikut Study Tour

Pemuda ini dikenal ringan tangan hingga bersedia menjadi “kuli panggul” untuk membantu tetangga yang membutuhkan pekerjaan fisik, dengan bayaran sukarela. Seringkali hasilnya dibagi dua dengan Rosdiana. Sisanya, untuk uang jajan atau diberikan kepada adik-adiknya.

“Dia pikir, dia tulang punggung keluarga karena anak laki satu-satunya… Dia anaknya rajin, baik, pokoknya enggak neko-neko (macam-macam) orangnya,” lanjut Rosdiana.

Dalam kesempatan yang sama, Aida Kurnia sepupu Mahesya mengatakan pihak keluarga “sudah menerima” kepergian pria 17 tahun ini. Tapi ia mengatakan, kasus ini harus diusut tuntas.

“Mungkin dari pihak sekolah, dari pihak travelnya yang pasti, karena dari awal sebelum berangkat pun, ada bannya nyangkut di restoran tempat parkir itu,” kata Aida.

Berdasarkan keterangan sejumlah saksi, Bus Trans Putera Fajar sempat mengalami masalah pada pada bagian rem, dan sempat diperbaiki di sebuah parkiran tempat makan.

Baca juga: Imbas Kecelakaan di Subang, Muhadjir: Jangan Menyewa Bus Kecuali Betul-betul Bisa Dipercaya

Sekitar satu jam perbaikan, bus kembali berjalan dan mengalami kecelakaan. Polisi tidak menemukan jejak rem di lokasi kecelakaan.

“Ini aneh kan. Seharusnya sebelum jalan diganti armadanya,” tambah Aida.

Selain sopir, siapa yang harus tanggung jawab?

Keluarga dan kerabat membawa jenazah korban kecelakaan bus rombongan SMK Lingga Kencana Depok untuk disalatkan di rumah duka, Parung Bingung, Depok, Jawa Barat, Minggu (12/5/2024).ANTARA FOTO via BBC Indonesia Keluarga dan kerabat membawa jenazah korban kecelakaan bus rombongan SMK Lingga Kencana Depok untuk disalatkan di rumah duka, Parung Bingung, Depok, Jawa Barat, Minggu (12/5/2024).
Pengamat transportasi dari Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Pusat, Djoko Setiwarjono mengatakan insiden Bus rombongan SMK Lingga Kencana pertanda "kondisi angkutan (darat) kita sudah gawat“.

"Segeralah bertindak. Kalau nggak, tentu nanti akan gawat lagi. Nanti korban bisa keluarga kita, kita juga,” kata Djoko kepada BBC News Indonesia.

Kasus ini menjadi titik kritis membenahi sistem angkutan darat, khususnya bus pariwisata, tambah Djoko. Ia menyoroti pihak-pihak yang tak bisa lepas dari kecelakaan ini maupun insiden yang berulang, antara lain:

  • Perusahaan Otobus

Sejauh ini belum ada pernyataan resmi dari Perusahaan Otobus (PO) Trans Putera Fajar. Namun, berdasarkan keterangan pihak berwenang, bus Trans Putera Fajar yang mengalami kecelakaan ini tidak memiliki izin angkutan, dan masa berlaku uji berkala (KIR) sudah kedaluarsa.

Tapi apa sanksinya? Dalam regulasinya, pihak yang tidak mematuhi uji berkala ini hanya sebatas diberi sanksi peringatan tertulis dan denda administratif. Pemilik kendaraan yang mengabaikan peringatan ini paling banter diganjar Rp24 juta.

Sanksi berat justru dibebani kepada pengemudi, melalui Undang Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Salah satu pasalnya berbunyi:

“Setiap pengemudi yang karena kelalaiannya mengakibatkan kecelakaan dan terdapat orang meninggal dunia dikenakan sanksi pidana penjara paling lama enam tahun dan/atau denda paling banyak Rp12 juta”.

“Sudah saatnya, pengusaha bus yang tidak mau tertib administrasi diperkarakan. Selama ini, selalu sopir yang dijadikan tumbal setiap kecelakaan bus,” kata Djoko.

Baca juga: Bus Rombongan SMK Lingga Kencana Melaju Tanpa Rem Saat Kecelakaan di Subang

Petugas kepolisian mengevakuasi korban kecelakaan bus pariwisata di Desa Palasari, Kecamatan Ciater, Kabupaten Subang, Jawa Barat, Sabtu (11/5/2024).ANTARA FOTO via BBC Indonesia Petugas kepolisian mengevakuasi korban kecelakaan bus pariwisata di Desa Palasari, Kecamatan Ciater, Kabupaten Subang, Jawa Barat, Sabtu (11/5/2024).

  • Kepolisian

Anggota Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas), Pudji Hartanto Iskandar mendorong kepolisian melakukan penelusuran terhadap pemilik bus.

"Nah itu harus menjadikan momentum, apalagi KIR mati, [kendaraan] tidak terdaftar,“ katanya.

Halaman Berikutnya
Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Prakiraan Cuaca Bogor Hari Ini Sabtu 18 Mei 2024, dan Besok : Siang ini Hujan Ringan

Prakiraan Cuaca Bogor Hari Ini Sabtu 18 Mei 2024, dan Besok : Siang ini Hujan Ringan

Bandung
Kondisi Bocah yang Depresi Ponselnya Dijual Sang Ibu, Rutin Minum Obat dan Dibelikan Hp Baru

Kondisi Bocah yang Depresi Ponselnya Dijual Sang Ibu, Rutin Minum Obat dan Dibelikan Hp Baru

Bandung
Menangis, Ayah Pacar Vina: Jangan Buat Kami Lebih Sakit

Menangis, Ayah Pacar Vina: Jangan Buat Kami Lebih Sakit

Bandung
Ayah Pacar Vina Muncul Beri Penjelasan, Sebut 8 Tahun Berusaha Tangkap Para Pembunuh

Ayah Pacar Vina Muncul Beri Penjelasan, Sebut 8 Tahun Berusaha Tangkap Para Pembunuh

Bandung
Bencana Tanah Longsor di Bandung Barat Butuh Percepatan Penanganan

Bencana Tanah Longsor di Bandung Barat Butuh Percepatan Penanganan

Bandung
Nasdem dan Gerindra Sepakat Berkoalisi Dukung Petahana di Pilkada Karawang 2024

Nasdem dan Gerindra Sepakat Berkoalisi Dukung Petahana di Pilkada Karawang 2024

Bandung
3 Pelaku Masih Buron, 8 Pembunuh Vina Bakal Kembali Diperiksa Polisi

3 Pelaku Masih Buron, 8 Pembunuh Vina Bakal Kembali Diperiksa Polisi

Bandung
Prakiraan Cuaca Bandung Hari Ini Jumat 17 Mei 2024, dan Besok : Pagi ini Cerah Berawan

Prakiraan Cuaca Bandung Hari Ini Jumat 17 Mei 2024, dan Besok : Pagi ini Cerah Berawan

Bandung
Pemkab Majalengka Tanggung Biaya Jaminan Perlindungan Petugas Pilkada 2024

Pemkab Majalengka Tanggung Biaya Jaminan Perlindungan Petugas Pilkada 2024

Bandung
Bima Arya 'Menjemput Takdir' di Kantor DPD Golkar Jabar

Bima Arya "Menjemput Takdir" di Kantor DPD Golkar Jabar

Bandung
Cerita Bocah 13 di Cirebon Depresi, Ponsel Hasil Menabung Dijual Sang Ibu untuk Makan Sehari-hari

Cerita Bocah 13 di Cirebon Depresi, Ponsel Hasil Menabung Dijual Sang Ibu untuk Makan Sehari-hari

Bandung
Usai Kecelakaan Maut Subang, Dishub Minta Sekolah di Bandung Bersurat Sebelum 'Study Tour'

Usai Kecelakaan Maut Subang, Dishub Minta Sekolah di Bandung Bersurat Sebelum "Study Tour"

Bandung
Kronologi Siswi SMA Terseret Angkot di Bandung, Alami Luka di Bagian Wajah

Kronologi Siswi SMA Terseret Angkot di Bandung, Alami Luka di Bagian Wajah

Bandung
Tiket Semifinal Persib vs Bali United 'Sold Out', Polisi Bersuara

Tiket Semifinal Persib vs Bali United "Sold Out", Polisi Bersuara

Bandung
8 Pembunuh Vina Sempat Cabut Keterangan di Polda Jabar,  Polisi Dalami Alasannya

8 Pembunuh Vina Sempat Cabut Keterangan di Polda Jabar, Polisi Dalami Alasannya

Bandung
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com