Salin Artikel

Ngamandian Ucing, Ritual Memandikan Kucing di Kampung Nyenang

KOMPAS.com - Ada sebuah tradisi unik yang berasal dari Kampung Nyenang, Kecamatan Cipeundeuy, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat yang dikenal dengan nama Ngamandian Ucing.

Ngamandian Ucing adalah tradisi asal Kampung Nyenang yang dilakukan untuk memanggil hujan sekaligus menolak bala.

Ngamandian Ucing juga telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) pada tahun 2020.

Sesuai namanya, salah satu prosesi Ngamandian Ucing dilakukan dengan cara memandikan seekor kucing.

Dilansir dari laman kik.dgip.go.id, Ngamandian Ucing disebut sebagai sebuah ritual kesuburan yang menjadi tradisi masyarakat Kampung Nyenang.

Sejarah tradisi Ngamandian Ucing konon berasal dari gagasan sosok Nyimas Kubang Karancang yang merupakan leluhur masyarakat kampung Nyenang.

Menurut tokoh masyarakat setempat, Abah Aca menuturkan bahwa Nyimas Kubang Karancang adalah keturunan Prabu Siliwangi.

Adapun nama Kampung Nyenang berarti Nyi Mas Kubang Karancang merasa senang atau bahagia akan kampung tersebut.

Dalam tradisi lisan yang dipercaya masyarakat, hal ini menggambarkan kondisi Nyimas Kubang Karancang yang sedang gundah menjadi senang ketika berenang di sungai Leuwi Panjang dan memandang keindahan alam di Kampung Nyenang.

Sementara pelaksanaan ritual Ngamandian Ucing juga telah dilakukan warga di Kampung Nyenang sejak zaman dulu.

Menurut penjelasan Abah Tatang, Ritual Ngamandian Ucing sudah turun-temurun dilakukan dari generasi ke generasi.

Namun sampai saat ini belum ditemukan catatan atau tulisan dari artefak budaya di kampung Nyenang mengenai kapan dan tahun berapa pertama kali dimulainya ritual ini.

Dokumen yang mencatat pelaksanaan Ngamandian Ucing menyebutkan bahwa ritual ini pernah dilakukan pada masa revolusi perang kemerdekaan.

Saat itu, tepatnya pada sekitar tahun 1945-1947 Kampung Nyenang berada di bawah kepemimpinan Lurah Jayadinata.

Pemerintah desa dan masyarakat Nyenang telah melestarikan dan memelihara tradisi ritual Ngamandian Ucing yang telah ada sebelum tahun 1945.

Hingga saat ini Upacara Ngamandian Ucing masih dilakukan oleh masyarakat kampung Nyenang karena meyakini amanat leluhurnya.

Adapun pelaksanaan tradisi Ngamandian Ucing terdiri dari tiga tahapan, meliputi persiapan, pelaksanaan, dan akhir pelaksanaan.

Pada tahapan persiapan, pemangku adat akan memperhatikan tanda-tanda alam untuk menentukan waktu pelaksanaan.

Selain itu persiapan juga dilakukan dengan mempersiapkan tempat di sungai Muara Bojong, membuat tumpeng teri, menyediakan panayogean, mempersiapkan sasajen, mempersiapkan musik reog buhun, dan kucing akan diarak ke tempat ritual.

Tahapan pelaksanaan dilakukan oleh masyarakat dan pemangku adat yang berkumpul di lapangan kampung Nyenang.

Rombongan kemudian melakukan arak-arakan sarana dan prasarana sampai ke sungai leuwi panjang dan menata tempat untuk menyajikan tumpeng dari masyarakat dan menyalakan dupa.

Selanjutnya pemangku adat akan mengukur bambu panayogean dengan merentangkan ujung jari tengah tangan kanan dan tangan kiri.

Di tahapan ketiga, setelah selesai ritual dan doa leluhur dipanjatkan, masyarakat akan membawa kucing yang berada di dalam kurungan dari anyaman bambu ke aliran sungai Muara Bojong untuk dimandikan.

Sumber:
kik.dgip.go.id  
abar.tribunnews.com  

https://bandung.kompas.com/read/2023/09/10/152442078/ngamandian-ucing-ritual-memandikan-kucing-di-kampung-nyenang

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke