Begini Ribetnya Membeli Minyak Goreng di Pasar Tradisional Pakai PeduliLindungi

Kompas.com - 27/06/2022, 15:10 WIB

CIREBON, KOMPAS.com – Sejumlah pedagang dan pembeli di Pasar Pagi, Kota Cirebon, Jawa Barat, mengeluhkan kebijakan jual beli minyak goreng curah yang harus menggunakan aplikasi PeduliLindungi.

Mereka menilai kebijakan yang mulai disosialisasikan dan diterapkan pada Senin (27/6/2022) menyulitkan para pedagang dan pembeli di pasar-pasar tradisional.

Baca juga: Mulai Disosialisasikan, Begini Cara Beli Minyak Goreng Pakai PeduliLindungi

Seperti diketahui, kebijakan yang disampaikan Menko Bidang Kemaritiman dan Investasi (Marves) Luhut Binsar Pandjaitan mulai disosialisasikan dan diterapkan hari ini.

Baca juga: Sosialisasi Mulai Hari Ini, Begini Cara Beli Minyak Goreng Rp 14.000 via Aplikasi PeduliLindungi

Luhut beralasan, kebijakan tersebut untuk mengawasi transaksi jual beli minyak curah di lapangan.

Merepotkan

Para pedagang mengaku kerepotan apabila setiap kali hendak melakukan transaksi pembayaran minyak goreng curah karena harus mengeluarkan ponsel pintar dan menunjukkan aplikasi PeduliLindungi kepada pembeli.

Thomas Sindunata (63), salah satu pedagang Pasar Pagi Kota Cirebon, menyampaikan, dia merasa kesulitan setiap kali berjualan harus selalu membuka aplikasi tersebut.

Belum lagi, banyak pelanggannya yang berusia lanjut sehingga mereka kesulitan menggunakan ponsel berbasis Android.

“Ya pro dan kontra. Bagi orang tua, pedagang, dan pembeli yang lama, yang tua sulit juga, enggak ngerti HP. HP yang sekarang, Andoid tuh. Mudahkan dan normalkan saja minyak, itu sudah cukup,” kata Thomas kepada Kompas.com, Senin (27/6/2022).

Thomas mengatakan, pembeli yang tidak mengerti menggunakan ponsel pintar otomatis tidak tahu cara menggunakan aplikasi PeduliLindungi.

Ini tentunya akan menyulitkan transaksi penjualan. Thomas sampai saat ini tidak mengerti tujuan pemerintah menerapkan kebijakan tersebut.

Keluhan serupa juga dilontarkan pedagang lainnya, Handoro (58). Pedagang sembako sejak tahun 1970-an ini juga merasakan hal yang sama.

Handoko menyebutkan, hampir sebagian besar pedagang dan pembeli di pasar tradisional berusia lanjut. Bahkan, tidak sedikit pembeli yang menyuruh tukang becak untuk bertransaksi.

 

Sebagian besar dari mereka tidak menggunakan ponsel berbasis Android yang mendukung aplikasi PeduliLindungi. Mereka menggunakan ponsel lama atau bahkan tidak membawa ponsel sama sekali.

“Kurang praktis, repot. Mayoritas pedagang kita di tradisional itu belum tentu punya HP yang sekarang. Banyak HP jadul. Jadi enggak bisa akses, repot. Juga banyak yang pakai tukang becak belinya, cukup titipkan catatan dan uangnya. Tukang becak tidak bawa HP, sulit kan?” kata Handoko.

Kebijakan menggunakan PeduliLindungi juga akan menyita waktu pedagang untuk bolak-balik membuka ponsel, termasuk untuk input data.

Berkaca dari kelangkaan minyak goreng curah kemarin, pedagang diminta mendata siapa saja pembelinya.

Pendataannya menggunakan kartu keluarga atau Nomor Induk Kependudukan (NIK).

“Waktunya istirahat, nambah kerja, input data. Kemarin saat kelangkaan begitu pakai fotokopi KTP. Katanya untuk pendataan. Kami yang jualan di pasar repot, habis waktu untuk input KTP,” tambah Handoko.

Sementara itu, salah satu pembeli di pasar tradisional, Siti Hulianah (38), juga merasa kerepotan dengan aturan yang sekarang diterapkan.

Dia merasa repot apabila harus ke pasar membawa ponsel kemudian menunjukkan aplikasi PeduliLindungi.

Dia takut bolak-balik ke pasar dengan membawa ponsel justru berpotensi kehilangan atau ponselnya terjatuh.

“Repot bawa HP ke pasar, Mas, takut hilang, takut jatuh. Terus repot tiap mau beli, keluarin HP, lihat PeduliLindungi,” kata Siti saat membeli minyak goreng curah.

Siti membeli minyak goreng curah untuk bahan berdagang gorengan.

Harga minyak goreng yang sempat mahal membuatnya kesulitan.

Saat harga sudah normal, harapan Siti, pemerintah justru memudahkan, bukan malah mempersulit dengan aturan menggunakan aplikasi PeduliLindungi.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Teriakan Sopir Truk Saat Gagal Rem dan Meluncur Tak Terkendali di Turunan Gentong Tasikmalaya: Awas...

Teriakan Sopir Truk Saat Gagal Rem dan Meluncur Tak Terkendali di Turunan Gentong Tasikmalaya: Awas...

Bandung
Tol Sentul-Karawang Barat Segera Dibangun, Akses ke Karawang Makin Mudah

Tol Sentul-Karawang Barat Segera Dibangun, Akses ke Karawang Makin Mudah

Bandung
Ridwan Kamil Targetkan Underpass Dewi Sartika Depok Bisa Dilalui Akhir Tahun Ini

Ridwan Kamil Targetkan Underpass Dewi Sartika Depok Bisa Dilalui Akhir Tahun Ini

Bandung
Belum Ada Kasus, Dinkes Karawang Ingatkan Prokes untuk Cegah Virus Cacar Monyet

Belum Ada Kasus, Dinkes Karawang Ingatkan Prokes untuk Cegah Virus Cacar Monyet

Bandung
9 Kelas SD Negeri di Bandung Barat Digembok Ahli Waris, Pihak Sekolah Putar Otak Demi KBM Berjalan

9 Kelas SD Negeri di Bandung Barat Digembok Ahli Waris, Pihak Sekolah Putar Otak Demi KBM Berjalan

Bandung
SD Negeri di Bandung Barat Digembok Orang Mengaku Ahli Waris Pemilik Lahan

SD Negeri di Bandung Barat Digembok Orang Mengaku Ahli Waris Pemilik Lahan

Bandung
Kecelakaan Maut di Ciamis Tewaskan 8 Orang, Pikap yang Angkut 17 Orang Masuk Jurang

Kecelakaan Maut di Ciamis Tewaskan 8 Orang, Pikap yang Angkut 17 Orang Masuk Jurang

Bandung
Bertambah Satu Korban, Total 8 Orang Tewas dalam Kecelakaan Pikap Masuk Jurang di Ciamis

Bertambah Satu Korban, Total 8 Orang Tewas dalam Kecelakaan Pikap Masuk Jurang di Ciamis

Bandung
Kasus Pengelolaan Limbah B3 di Rancaekek, Walhi Jabar: DLH Kecolongan

Kasus Pengelolaan Limbah B3 di Rancaekek, Walhi Jabar: DLH Kecolongan

Bandung
Mobil Pikap Berpenumpang 17 Orang Masuk Jurang di Ciamis, 7 Tewas

Mobil Pikap Berpenumpang 17 Orang Masuk Jurang di Ciamis, 7 Tewas

Bandung
Update Kecelakaan Rombongan Hajatan di Ciamis, Kasatlantas: Total Korban Tewas 7 Orang

Update Kecelakaan Rombongan Hajatan di Ciamis, Kasatlantas: Total Korban Tewas 7 Orang

Bandung
8 Orang Tewas Kecelakaan di Ciamis Diduga karena Pikap yang Ditumpangi Alami Rem Blong

8 Orang Tewas Kecelakaan di Ciamis Diduga karena Pikap yang Ditumpangi Alami Rem Blong

Bandung
8 Orang Tewas Kecelakaan di Ciamis adalah Rombongan Hajatan dari Majalengka

8 Orang Tewas Kecelakaan di Ciamis adalah Rombongan Hajatan dari Majalengka

Bandung
Kecelakaan di Ciamis, Mobil Pikap Masuk Jurang, 8 Penumpang Tewas

Kecelakaan di Ciamis, Mobil Pikap Masuk Jurang, 8 Penumpang Tewas

Bandung
Kebakaran di Limbangan, Rumah Makan Tahu Sumedang Ludes Dilalap Api

Kebakaran di Limbangan, Rumah Makan Tahu Sumedang Ludes Dilalap Api

Bandung
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.